Dari sebuah artikel dalam majalah Trax Music & Attitude Magazine mengenai fluktuasi musikalitas band-band mainstream di Indonesia, tergugah lah gw buat sekedar memberikan gambaran mengenai nasib mainstream di Indonesia yang mulai masuk kedalam era kegelapan. Yaa era kegelapan seperti yang terjadi pada abad pertengahan di Eropa.
Begini Ceritanya…. EnjOoOii….
Tak bisa dipungkiri, era kemunculan Radja yang sangat fenomenal rupanya menginfluence band-band beraliran sejenisnya untuk berlomba meraih kesuksesan yang telah ditorehkan oleh sang pioneer. Keberhasilan dalam cara mengemas musik yang tetap bernuansa kental melayu, penampilan dipanggung, hingga jalur promosi yang mampu membalikkan wajah sejumlah stasiun TV dan penyelenggara hburan untuk menayangkannya, kini telah dibuktikan oleh mereka yang kini sedang mendulang rupiah. Siapa saja pemeran-pemeran “baru” ini?
MINIM TEHNIS, LARIS MANIS
Ini dia sebuah grup band yang dianggap paling vulgar mengeksploitasi pasar musik
Berbekal kepolosan bermusik dan cara menulis lirik, Kangen Band membuat album dari hasil patungan lalu disebarkan di radio-radio setempat. Entah kenapa, lagu-lagunya sampai ke tangan para pembajak dan kemudian menyebar luas hingga seluruh Indonesia.
Boomingnya di kalangan lapak hingga masyarakat menengah kebawah, rupanya menarik Warner Music untuk mengedarkannya secara resmi. Tidak perlu waktu lama, beberapa tahun kemudian, angka penjualan debut album mereka mencapai 300 ribu keping. Naun kehadiran band ini rupanya ikut memancing berbagai pihak untuk berkomentar baik pro dan kontra. Dengan materi yang bisa dibilang ‘murahan’ oleh sejumlah orang, kemunculannya dianggap merusak tatanan musik secara umum, meracuni anak-anak muda untuk tidak perlu berkreatifitas tinggi dalam bermusik. Sedangkan dilain pihak, kehadiran mereka dianggap sebagai hero dari para band daerah yang ingin sukses dipasaran musik Indonesia.
BARAT DITOLAK, MUSIK DIGASAK
Beda pula yang dilakukan oleh band yang bernama Anima, diambil dari singkatan Anak Seni Berlima yang digawangi barudak Bandung, Lucky (vokal), Eldy (bass), Andri (Drums), Rhino (gitar), dan N-kan (gitar) meniti kesuksesannya melalui jalur yang dulu dijalankan oleh Ian Kasela dkk.
Merasa materi mereka yang diproduksi sendiri kurang mendapat respon di ibukota dan kota-kota besar di Pulau Jawa, termasuk kota asalnya Bandung, Anima banting stir. Lewat label ‘pinggiran’ Zelika Records mereka menjajaki pasar Indonesia bagian timur dan taktik ini pun berhasil. Selain temabng-tembang mereka cepat menapaki tangga lagu radio dan penjualan album seta jadwal show menunjukkan peningkatan grafik yang drastis. Penjualan album menembus angka 100 ribu keping. VCD konser yang mereka terbitkan laris bak kacang goreng, sementara ring back tone dari lagu-lagu anima kabarnya hamir menembus angka 1 miliar. Kenyataan ini membuat Sony BMG buru-buru merangkul mereka untuk merambah pasar nasional yang cukup menjanjikan.
TAKTIK JEMPUT BOLA
Sementara ST 12 (Stasiun Timur 12) adalah band yang berjalan dengan taktik paling unik. Mereka sebenarnya sudah lebih dari 15 tahun berkecimpung di dunia musik. Karena dengan pengalaman yang ada, Pepep (drums), Pepeng (gitar) dan Charly (vokal), berpikir bahwa kebanyakan telinga masyarakat Indonesia tidak bisa jauh dari musik Melayu. Dengan memproduksi sendiri albumnya dan bekerjasama titip edar dengan label kecil, mereka sengaja melakukan promosi gaya jemput bola yaitu mendatangi sekitar 70 stasiun radio daerah.
Berkat-radio-radio tersebut, musik mereka mulai diterima oleh kalangan masyarakat kecil dan dari situlah nama mereka mulai dikenal. Dengan cara tersebut, ST 12 mencatat rekor selama dua tahun lagu-lagu mereka berada diperingkat sepuluh besar ring back tone terlaris. Angka penjualan album perdananya terbiang fantastis yaitu mencapai lebih dari 200 ribu kopi sebelum akhirnya mereka ditarik oleh Trinity Optima, label yang membesarkan Ungu.
MUSIKALITAS VS JUALAN : MUSUH BEBUYUTAN
Dengan banyaknya pro dan kontra yang menghantam keberadaan band-band fenomenal tadi, ST 12 sendiri beranggapan bahwa musik itu masalah selera dan tidak bisa dipaksakan. Sebagai musisi yang ingin bisa eksis dipanga musik mau jualan apa, musikalitas atau komersialitas?
Tentunya dengan kondisi masyarakat baik tingkat daya beli maupun selera, banyak yang mengasumsikan masyarakat luas masih menginginkan musik yang ringan, gampang dimainkan dan mudah dinyanyikan. Itu alasan ST 12 kengapa mereka tetap eksis berkutat dengan musik yang seperti mereka mainkan saat ini.
Seperti sebuah mata pisau yang kedua sisinya mempunyai peranan tersendiri, sisi musikalitas dan komersialitas di industri musik masing-masing juga mempunyai kepentingan. Lantas apakah sekarang kita harus terus berkutat dengan karya-karya yang hanya berorientasi pada penjualan atau berlomba membuat karya yang lebih bermutu? Let your ears to judge.
Sumber:
1. Trax Music & Attitude Magazine
2. http://foto.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/22/time/190123/idnews/927777/idkanal/431/id/1
3. http://foto.detik.com/readfoto/2008/10/14/140400/1019889/431/1/
